Arsip Blog

Dilema Pancasila di Era Reformasi


Selamat malam teman-teman. Sudah lama saya gak buat postingan di blog ini, namun kali ini saya sempatkan waktu membuat postingan tentang Pancasila dalam pandangan saya. Pandangan yang membuat saya resah dewasa ini. Bukan maksud menjelek-jelekan Pancasila, terlebih saya ini juga pemuda Indonesia, calon generasi penerus bangsa.

Namun masih dalam suasana hari lahirnya Pancasila 1 Juni lalu, saya mencoba mengungkit Dilema Pancasila di masa reformasi ini.

Pancasila, sebuah gagasan para “Founding Fathers” Republik Indonesia ini menurut saya pribadi sebagai pemuda awam merupakan ideologi paling fleksibel, paling dinamis, paling netral bahkan paling sempurna.

Mengapa demkian…?

Pancasila lahir disaat paham-paham lain sedang membelenggu di dunia ini. Mulai dari Fasis, Liberalis bahkan Komunis. Dua kubu yang saling bertolak belakag antara Liberalis yang bersifat individual, bebas, kapitalis bahkan mengarah ke imperialisme zaman baru sangat bersinggungan dengan pandangan Kaum Komunis. Kaum Komunis berpaham “Satu Rasa, Sama Rata”, yang tentunya penuh aturan dan mengutamakan kebersamaan.

Yah memang dua paham tersebut berasal dari tanah Eropa dan mungkin kurang cocok dengan bangsa-bangsa Asia yang bersifat konservatif, bertahan pada tradisi, budaya & agama tentunya. Untuk itu Indonesia sebagai negara yang memiliki warisan multikultural yang luar biasa beragamnya perlu sebuah terobosan baru dalam pedoman hidup bangsanya. Maka lahirlah sebuah pandangan para pendiri bangsa ini yang diberi nama Pancasila.

Contoh Pertama, dalam urusan agama pihak komunis menganggap bahwa agama adalah diluar aturan negara & penyebab konflik dalam masyarakat, untuk itu negara-negara komunis tidak memandang agama dalam urusan politiknya. Lain dengan paham Liberalis yag sangat membebaskan masyarakatnya memeluk agama apapun yang dianutnya termasuk atheis. Namun lihat Amerika sekarang ?! Liahat masyarakatnya yang sudah terlalu hedonis hingga kebanyakan dari mereka sudah melupakan agamanya.

Untuk itu Pancasila hadir sebagai penengah antara kebebasan & keteraturan terutama dalam bidang Rohani, suatu kebenaran yang hakiki. Untuk itulah sila pertama dikumandangkan. Ketuhaan Yang Maha Esa.

Namun semua berubah, bangsa ini sudah terlalu materialistis & hedonis. Mementingkan nikmat-nikmat dunia semata dengan cara instan. Korupsi contohnya. Hedonisme merupakan cikal bakal korupsi, hedonisme datang ketika kita jauh dari sang Khalik. Kita sudah terlalu beriman pada Amerika, terlalu kuat pengaruhnya untuk kita.

Contoh Kedua. Selain bangsa yang beragama kita juga bangsa yang berbudaya dan berbudi luhur. Tentulah kita mempunyai kehidupan sesuai aturan, tradisi dan adab untuk mencapai suatu keseimbagan sosial.

Bandingkan dengan Komunis! Yah memang ideologi yang mempunyai iming-iming yang sangat menggugah, Satu Rasa, Sama Rata, Semua Saudara. Tapi sudah ada bagian-bagian dari suatu struktur sosial bangsa ini yang memiliki kewajiban & haknya masing-masing. Memang tidak membenarkan pengkastaan sosial, namun semua sudah diatur dalam masyrakat Indonesia sedemikian rupa siapa yang pantas menerima hak & kewajiban atas haknya. Bukan tanpa tujuan atau pengkastaan sosial.

Lain dengan Amerika yang memang miskin budaya, semua bebas karena semua orang dianggap punya HAM. Namun apalah arti suatu kebebasan tanpa aturan, yang ada malah munculnya kebrutalan. Sila kedua pun lahir. Kemanusiaan yang adil & beradab. Tinggal kita sendiri yang menjalankan prosesnya. Hargai budaya & agama serta filtrasi unsur dari luar, tentu cita-cita kita sebagai bangsa yang maju namun tidak lupa budaya & agama bukanlah hal mustahil. Karena sepenglihatan saya belum ada suatu negara maju di dunia ini yang memperhatikan unsur budaya & agamanya, terlebih keduanya.

Contoh ketiga. Bukan rahasia Indonesia adalah surganya Dunia. Kekayaan alam apapun tersedia disini. Tak hanya itu, penghuninya pun demikian. Berpuluh-puluh suku, berbagai etnis, bermacam ras, kulit hitam bahkan putih, beragam Agama & kepercayaan, berpadu-padu pandangan politik, golongan bahkan 700-an bahasa ada di Bumi Allah Indonesia ini. Semua distukan atas nama Indonesia, semua diikat atas Pancasila. Semua diwujudkan di sila ketiga, Persatuan Indonesia.

Bangsa mana yang tak akan iri? Bangsa mana yang memiliki keanekaragaman sperti ini. Disini perbedaan bukanlah perpecahan, disini pebedaan begitu dihargai, karena disini pebedaan adalah suatu keindahan Tuhan. Jaga itu, hargai itu !

Lihat Yugoslavia, USSR, China, Spanyol, Jerman, Amerika bahkan Britania Raya. Sungguh seharusnya mereka belajar dari sini. Dari negeri yang beragam ini.

Contoh slanjutnya dalam masalah kepemimpinan dan demokrasi.

1. Ketuhanan Yang Maha ̷E̷S̷A̷  USA

2. Kemanusiaan yang batil & biadab

3. Perpecahan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Kebohongan dalam permusyawaratan/ perwakilan

5. Kesenjangan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia

1. Ketuhanan Yang Maha ̷E̷S̷A̷ USA !!!

Bung Karno Pernah Jadi Dukun di Bengkulu


Bung Karno. Memang tak akan habis kisah hidupnya jika di ceritakan satu-persatu. Satu lagi yang membuat saya sendri kaget adalah sebuah artikel disalah satu portal berita online Indonesia. Judul artikel itu adalah “Sebelum Jadi Presiden, Bung Karno Pernah Jadi Dukun. Postingan aslinya telah di posting di www.LensaIndonesia.com

Sontak saya kaget ketika membacanya di salah satu thread diskusi yang ada di KasKus. Begitu aku membacanya dalam hati hanya bisa semakin kagum akan seorang proklamator bangsa Indonesia ini. Baiklah, supaya teman-teman berikut saya sertakan salinan asli dari sumber beritanya

https://i0.wp.com/headline.lensaindonesia.com/wp-content/uploads/2011/10/bung-karno-dan-teman-temannya-di-bengkulu-1938.jpg

Bung Karno dan teman-temannya di Bengkulu pada tahun 1938.

Read the rest of this entry