Lembar Hitam Kebudayaan yang Kita Lahirkan Sendiri (Jilid kedua bauayawan besar)

sitok 3

Lambat laun kasus ini makin merembet kemana-mana. Ada kepentingan dari pihak-pihak lain yang muncul di kasus ini. Tidak akan saya jelaskan panjang lebar hal tersebut. Toh apa untungnya bagi kasus saudari kami ini ? Di bagian ini saya mencoba meluapkan kegelisahan hati saya. Kegelisahan saya mengenai kesalahan sistem keruh “kita“ yang makin memperkeruh kasus ini. Kebudayaan, birokrasi hukum & pemberitaan media masa. Tiga komponen ini tercoreng, hancur, dan terlihat bobroknya setelah kasus ini muncul ke permukaan.

Sekarang saya tidak bisa menyalahkan birahi Sitok atas musibah saudari kami ini. Percuma. Nasi telah menjadi bubur. Yang saya sesalkan adalah sikapnya yang dianggap seorang budayawan besar tapi tidak memberikan hal yang patut dicontoh untuk masyarakatnya sendiri. Memang label budayawan tidak didapat dengan jenjang akademis & hanya merupakan pemberian gelar non-formal masyarakat luas saja. Namun sejatinya label itu sangat sakral & sarat makna. Orang yang dianggap budayawan tidak hanya harus mengerti asas-asas kebudayaan yang berlaku dalam masyarakatnya, lebih dari itu adalah wajib hukumnya jika asas-asas tersebut ia terap & sebarkan dalam masyarakat. Andai saja Sitok tidak berkelit dan bersembunyi dari tanggung jawabnya, label pemuka budaya yang ia miliki tidak akan tercoreng. Saya tidak mempermasalahkan lebel pemuka budaya yang sudah terlanjur tercoreng itu, namun budaya dalam masyarakat kita dianggap sebagai pemersatu ditengah seluruh problematika bernegara, budaya dianggap sakral & memiliki nilai-nilai luhur yang lahir dari masyarakat kita sendiri. Ini berimbas buruk pada budaya kita, dengan fenomena ini kita secara gamblang membuka lembaran hitam kebudayaan kita. Jika orang yang kita percaya sebagai penjaga nilai-nilai budaya itu saja merusak apa yang harus ia jaga, bagaimana dengan kita dan budaya kita sekarang dan nanti ke depannya? Coba teman-teman pikirkan sendiri.

Andai Sitok tak berkelit & taka sembunyi dari apa yang menjadi tanggung jawabnya. Loh? Jangan mengada-ada! Bukannya dia bertanggung jawab ? Masak sih ? Tanggung jawab yang seperti apa ? Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, kita tidak akan menemukan titik terang kalau kita sendiri tidak tahu apa dan bagaimana titik terang yang dimaksud. Mari luruskan sudut pandang dalam celotehan saya ini.

Yang terjadi di masyarakat kita kental kaitannya dengan budaya patriarki. Lelaki yang mengeluarkan benihnya di rahim seorang prempuan secara paksa tanpa kemauan si korban akan sah-sah aja. Dianggap tidak bersalah jika si lelaki nantinya bertanggung jawab atas benihnya yang telah membuat perut si wanita menjadi buncit itu. Benih tersebut dianggap telah merubah bentuk semula sebuah perut yang seharusnya tidak demikian. Perut yang menjadi buncit ini yang dalam masyarakat kita melulu diutamakan. Dari sini terlihat bagaimana bejatnya kita menanggap seorang wanita hanya sebagai properti saja, hanya sebatas tempat membuang sperma. Sering kali kita lupa akan masalah sebenarnya yang sebenarnya jauh lebih rumit, emosional dan jauh lebih berat. Masalah tersebut adalah masalah pengalaman buruk korban yang akan terus dia ingat sepanjang hidupnya & tidak mungkin akan ia lupakan. Selain itu korban merasa bahwa dirinya telah kotor. Dalam masyarakat kita begitu bukan ? Martabat wanita dipandang hanya dari selangkangan ? Maka dari itu jangan salahkan kami sebagai kaum lelaki jika suatu saat salah satu atau beberapa dari kalian menjadi objek birahi kami, kami nantinya hanya sebatas bertanggung jawab atas kebuncitan perut kalian itu. Itupun kalau karena kami lupa memakai pengaman. Yah! Memang begitu kan aturannya ?! Saya jadi ingat sebuah tulisan yang ditulis Nosa Normanda yang berjudul “Logika Kita Logika Sitok: Tips Trik Menikahi Luna Maya, Agnes Monica dan Personil JKT48”. Dalam tulisan itu dijelaskan tentang konsep tanggung jawab dalam kasus pemerkosaan di masyarakat patriarki semacam kita ini. Mudah untuk lepas dari amarah masyarakat, nikahi saja. Maka mudah pula untuk mendapat wanita yang kita mau. Perkosa saja, lalu nikahi, itupun kalau perutnya membuncit. Pengalaman buruk & rasa bersalah korban atas martabatnya ? Alah peduli setan! Sudah saya jelaskan diatas bukan?

sitok 2

Kembali ke kasus saudari kami ini & prespektif konsep pertanggungjawaban si Sitok ini. Teman-teman pasti pernah mendengar di beberapa media bahwa Sitok bersedia bertanggung jawab & korban memang menuntut pertanggungjawaban darinya. Tapi konsep tanggung jawab ini berbeda dengan apa yang ada di pandangan Sitok (dan kita umunya) dengan konsep pertanggungjawaban yang korban mau. Sitok siap menikahi korban. Hal itu kita anggap sebagai bentuk pertanggungjawabannya & mau tidak mau dianggap juga sebagai titik terang kasus ini. Selamat teman-teman, dengan ini kita secara tegas mendukung korban untuk terus diperkosa secara fisik & mental oleh seorang predator seks ini. Mendengar nama Sitok Srengenge saja wajah korban langsung pucat pasi, bahkan bisa menangis hingga pingsan. Bentuk pertanggungjawaban yang pihak korban maksud tidak muluk-muluk. Sitok diminta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Ia juga hanya diminta untuk meminta maaf kepada keluarga korban, institusi pendidikan & komunitas kebudayaan. Hanya itu! Saya sudah jelaskan, bukan hanya karena prosedural hukum Sitok harus diadili. Lebih dari itu masyarakat juga dididik mengenai masalah moral dalam kasus ini, masyarakat juga diarahkan bahwa sebenarnya posisi korban tidak layak untuk diberi stigma-stigma negatif yang muncul dari sisi hitam budaya patriarki ini. Jika teman-teman sedikit peka, yang akan kita lihat dari konsep ini ialah korban mencoba memperbaiki ulanng elemen kebudayaan yang secara tidak langsung Sitok hancurkan melalui birahi dan sikap tidak kesatrianya itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “mempertanggungjawabkannya” ialah kata terpanjang. Karena memang kita tahu tanggung jawab itu tidak mudah dan merupakan elemen rumit untuk menjaga sebuah martbat. Sitok, saya harap Anda membaca secuil paragraf ini.

Itu baru dari sisi budaya, belum lagi masalah pers & birokrasi hukum yang juga menjadi keruh lantaran kasus ini. Saya masih ingat betul, sehari sebelum daiadakannya berita acara pemerikasaan (BAP) perdana korban, portal media online Kompas.com memuat berita dengan judul “Besok, TTM Sitok Srengenge Akan Jalani Pemeriksaan”. GILA!!! Media sekaliber kompas dengan gamblang memposisikan korban sebagai “teman tapi mesra” seorang predator seks yang mau tidak mau merubah prespektif masyarakat bahwa korban juga membutuhkan seks itu sendiri dari si pelaku. Bagaimana hancurnya perasaan korban? Sudah jatuh tertimpa tangga lalu terbentur tiang. Usut punya usut ternyata ini merupakan kesalahan bagian redaksi. Seorang redaktor portal media online Kompas rupanya berinisiatif membuat judul itu. Saya tak sedikitpun sudi namanya disebut di tulisan saya ini. Jijik! Tak jelas apa tujuannya. Membuat judul yang heboh supaya banyak orang membacanya di portal media tersebut dan rating visitor web-nya naik mungkin ? Pengunjung makin banyak, iklan makin laris. Bukan begitu ? Tapi sayangnya masyarakat tidak bodoh dalam membedakan mana fakta dan mana opini. Cemooh, kecaman & serangan balik malah ditujukan buat si redaktur nakal ini melalui dunia maya. Melalui laman twitternya redaktur ini mengaku akan mundur dari institusinya. Apa bedanya dengan Sitok ? Mengakui kesalahannya, lalu mundur dari institusinya namun tanpa tindakan kongkrit untuk korban. Sama bejat, beda kasus.

Itu bukan satu-satunya. Ada satu media online yang tak kalah lucu. Media yang “dekat” dengan Sitok yang saya rasa teman-teman sudah tahu tanpa saya sebut disini. Ketika kasus ini meledak ke masyarakat, dibuatlah berbagai berita yang memposisikan Sitok sebagai orang yang juga patut dibela. Berita-berita yang menayangkan bahwa Sitok siap bertanggungjawab, Istri Sitok akan tetap setia & dukungan anak Sitok melalui surat terbuka secara tidak langsung menggiring opini publik ke arah yang salah dalam kasus ini. Saya jadi ingat tulisan saudara Yons Achmad mengenai sedikit basis ilmu komunikasi. Dijelaskan bahwa dalam ilmu komunikasi terdapat dua jenis sumber komunikasi, public relation & jurnalistik. Dalam jurnalistik, pahit atau manis, katakanlah. Dalam public relation katakan yang (hanya) baik atau diam. Diawal kemunculan kasus ini saya masih kurang paham bagaimana media diatas memposisikan dirinya. Sebagai media milik masyarakat atau public relation pihak Sitok. Yang kita perlu ingat baik-baik adalah media adalah separuh nyawa demokrasi kita modern ini selain birokrasi yang bersih. Demokrasi adalah pilar kelima di Indonesia. Media yang bermartabat tentu mencerminkan kondisi masyarakat yang berdaulat.

[url=https://flic.kr/p/oLsJRS][img]https://farm4.staticflickr.com/3850/14942991812_aa8c78d3dd_z.jpg[/img][/url][url=https://flic.kr/p/oLsJRS]@PSAMabim_FIBUI 04[/url] by [url=https://www.flickr.com/people/97749819@N08/]tommywahyuutomo[/url], on Flickr

Salah satu aksi solidaritas kami dari tim #AdiliSITOK!

Dari segi birokrasi hukum pun saya tak mau panjang lebar. Yang saya ingin pertanyakan adalah “Mengapa kasus ini yang semula ditangani bagian oleh Subdit Remaja, Anak, dan Wanita (Renakta) dialihtangankan ke bagian Sub Direktorat (Subdit) Keamanan Negara (Kamneg)…? Dan mengapa proses hukum yang berjalan terkesan lama…? “. Dua pertanyaan yang membuat kita lagi-lagi merasa malu dengan sistem hukum yang kita ciptakan sendiri namun kita langgar bersama. Apakah karena kasus si Sitok ini terlalu membuat masyarakat heboh lantas ia dipindahkan ke bagian kemanan negara yang saya rasa memang bukan tempatnya. Lalu kenapa proses hukumnya berjalan lama…? Apa karena bakingan si Sitok ini cukup berpengaruh kepada institusi penegak hukum ? Kita sudah mengetahui apa dan bagaimana titik terang kita maksud. Lalu bagaimana supaya titik terang yang kita cari sejak awal itu dapat ditemukan ? Apa jaket kuning harus turun ke jalan (lagi)? Apa mereka tidak ingat 2 rezim besar dapat diruntuhkan oleh kita, makara putih, pejuang budaya? Apa kita sebagai pejuang budaya harus melulu diam & menunggu korban-korban selanjutnya bergelimpangan ? Semua kembali kepada keputusan teman-teman semua. Salam damai.

Rujukan :

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/11/1531546/Besok.TTM.Sitok.Srengenge.Akan.Jalani.Pemeriksaan.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/12/23/my9e8a-kasus-sitok-dilimpahkan-ke-bagian-keamanan-negara

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/30/064533626/Sitok-Dituduh-Memperkosa-Istri-Tetap-Setia

http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/12/02/9-dosa-tempo-dalam-kasus-sitok-srengenge-615882.html

http://jakartabeat.net/kolom/konten/logika-kita-logika-sitok-tips-trik-menikahi-luna-maya,-agnes-monica-dan-personil-jkt48

About tommywahyuutomo

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, BEM FIB UI divisi Media Kreatif & anggota ISJUI.

Posted on April 22, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: