Kami, Kamu & Perspektif Mereka dibalik Sitok Srengenge (Jilid pertama bauayawan besar)

sitok 1

Kami tak kuasa menahan luapan emosi ketika melihat orang bertopi gelap yang baru keluar dari salah satu lorong bagian Mabes Polda. “Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan!”, begitu teriakan kami pada sosok (yang katanya) budayawan ini. Terlihat mukanya pucat pasi ketakutan. Segerombol wartawan & beberapa dari kami mencoba mendekati sosoknya. Tak ada niatan untuk mengumpat, kami sadar betul hal itu membuat derajat kami lebih rendah dari ia yang kami teriaki. Terlebih kami membawa embel-embel sebuah institusi pendidikan terbesar di negri ini. Terlebih tiap hari juga kami dijejali nilai-nilai kebudayaan di dalam kelas yang diimplementasikan juga dalam masyarakat. Kami sadar diri. Selang beberapa menit, dia & beberapa rekanannya pun berhasil masuk ke mobil yang telah disiapkan & dengan sigapnya mobil itu pergi. Kami yang hanya beberapa mahasiswa ingusan masih lantang meneriaki predator itu & tak peduli apakah sindiran keras itu masuk ke telinganya. Wartawan yang sudah 12 jam menunggunya bersama kami pun kesal karena insiden tersebut membuat mereka tak mendapat pers relase dari tim kuasa hukum pihak terlapor. Loh ? Masih punya muka ? Tak hanya wartawan, beberapa polisi berpakaian preman juga mencoba menurunkan emosi kami dengan bentakan-bentakannya yang lantang. Namun nihil hasil. Rasanya bentakan itu tak sebanding dengan perjuangan-perjuangan kami selama ini dalam membela apa yang patut kami bela. Tak sebanding pula dengan perjuangan seorang korban yang jatuh bebas kondisi psikologisnya untuk setidaknya kembali ingat bagaimana caranya tersenyum. Nihil. Maaf, kami tak berniat takut!

Selang beberapa langkah pasca kejadian tersebut, saya, 15 teman-teman mahasiswa perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia dan beberapa rekan tim kuasa hukum RW termasuk pak Iwan Pangka diperintahkan untuk tidak keluar area Mapolda. Kami diarahkan untuk masuk kembali ke sebuah ruang tunggu tempat kami berteriak lantang-lantang tadi. Segerombolan wartawan tadi memotret kami, entah judul berita apa yang akan dijatuhkan buat kami nanti. Di ruangan tersebut terlihat beberapa polisi berpakaian preman yang tadi terlihat di luar. Kami duduk rapih di ruangan itu. Identitas kami yang tak sampai dua puluh orang dimintai sebagai bukti. Alasannya ? Salah satu petinggi Mapolda merasa tidak nyaman atas aksi kami yang diklaim liar ini. Jadi ? Hukum disini itu sangat cepat bukan? Hanya hitungan detik kami diproses dan dinyatakan liar, sementara pemerkosa bertopeng budayawan tersebut bahkan masih bersatus saksi. Kami ingat betul kalau berita acara pemeriksaan terakhir pihak korban adalah bulan Desember tahun sebelumnya, sementara untuk si topi gelap baru tiga bulan setelahnya. Kapan akhir kasus ini ditemukan ujungnya ? Menunggu kami lupa ? Nihil. Maaf, kami menolak lupa!

Lupakan sejenak teriakan-teriakan kami tadi & mari sementara waktu melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Buka mata, buka hati & pikirkan matang-matang. Apakah titik terang benar adanya jika mata kita sendiri tertutup ? Pikiran dan hati pun demikian. Apa titik terang tersebut bisa kita temukan jika kita sendiri yang mencarinya tidak tahu apa dan bagaimana titik terang yang dimaksud.

Bermula akhir tahun lalu ketika berita-berita itu akhirnya tak kuat dibendung lagi oleh waktu. Beberapa portal media memberitakan tentang seorang mahasiswi Universitas Indonesia berinisial RW yang diketahui usia kandungannya sudah tujuh bulan melaporkan seorang penyair terkenal, Sitok Srengenge, atas sebab kehamilannya itu. Hal ini berawal dari perkenalan mahasisiwi tersebut dengan si penyair pada sebuah event tahunan di kampusnya dan berujung kedekatan setelah event tersebut. Bahkan dengan latar belakang budayawan, penyair tersebut dengan mudahnya mendekati korban yang memang juga sedang menggarap skripsinya yang membahas tema tentang cerpen berbahasa Jerman. Namun sayang kondisi itu dimanfaatkan si penyair untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dari tubuh si korban. Setelah cukup sering berkomunikasi lewat SMS ataupun dunia maya, akhirnya korban ditawari beberapa tiket secara gratis di pertunjukan seni sebuah institusi kesenian, Komunitas Salihara, tempat dimana Sitok menjadi seorang kurator teater disana. Setelah intensitas pertemuan dan komunikasi yang cukup dekat, tiba saatnya dimana hari pertemuan antara keduanya yang dilakukan di sebuah tempat kos kediaman Sitok. Disana untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim. Inilah lembar hitam pertama dimulainya kasus yang sangat kompleks ini. Bahkan belum lama setelah kasus ini muncul ke permukaan, SS sempat mengakui bahwa dirinya khilaf. Maksud hati membela diri tapi nyatanya itu malah menjadi sebuah langkah bunuh diri untuk mengetahui kebejatan & kepengecutan atas tindakannya sendiri.

Hari bergulir, pemberitaan itu makin santer. Dalam benak saya mungkin hal ini terjadi karena ada dua institusi besar yang dijual dalam setiap pemberitaan ini, institusi pendidikan tertinggi dan terbesar di negri ini & sebuah institusi kebudayaan yang tak kalah kondang pula. Makin hari makin jelas siapa sebenarnya pelapor dan terlapor dalam pemberitaan-pemberitaan itu. Satu almamater, satu makara, sontak saya kaget mengetahui fakta tersebut. Namun yang tak kalah membuat badan ini lemas adalah ketika saya tahu siapa sebenarnya mahasiswi malang ini. Memang kami tak cukup dekat, tapi saling bertegur sapa adalah hal wajib ketika kami saling berpapasan, tak jarang juga kami duduk semeja di kantin fakultas ini. Dalam hati hanya bisa miris & masih sulit menerima kenyataan yang ada. Supel, murah senyum & enak diajak bekerjasama. Itu kesan pertama saya pada dia si malang ini. Pantas saja sudah cukup lama kami tak saling bertegur sapa lagi.

Imbas dari pemberitaan ini beragam. Ada yang memberi simpati bahkan empatinya kepada apa yang ia alami. Ada yang menganggap ini hanya tebar sensasi semata & tak sedikit pula bibir-bibir yang sudah lebih dahulu menyalahkan mahasiswi malang tersebut. Ingin rasanya menampar bibir-bibir tersebut. Bisa apa ? Toh ini adalah hal yang wajar mengingat masyarakat kita – yang kita harus akui dengan berat hati – masih berkiblat pada sistem patriarki. Dan memang diawal munculnya kasus ini informasi masih sangat sedikit. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan sistem patriarki dalam sistem kebudayaan yang kita anut ini, ini merupakan sistem kebudayaan yang sudah melulu diturunkan. Yang saya sangat sesalkan adalah kita melulu menempatkan wanita sebagai pemicu tunggal dalam hampir seluruh kasus pelecehan seksual semacam ini, cukup sebagai pemicu, bukan dari awal ditempatkan sebagai korban.  Mata dan birahi kaum lelaki jangan harap disorot disini. Alasannya selalu klise, birahi muncul karena ada kesempatan. Belahan dada & paha putih membuat celana kami sempit. Yah! Benar adanya! Tapi sayangnya mereka lupa akan juga adanya “niat” dari pemilik birahi itu sendiri. Sehingga jangan salahkan kami bila belahan dada & paha putih itu sudah tertutup rapih namun kalian tetap disalahkan karena perbuatan kami. Salah sendiri! Kenapa punya belahan dada dan paha putih ?! Itu sistem yang berlaku disini. Bejat? Yah, bejat!

Selain itu praduga-praduga pun bermunculan karena sedikitnya informasi dari kasus ini. Lagi-lagi kita hanya bisa mengernyitkan dahi, ternyata banyak kalangan yang lebih awal menghasilkan praduga juga anggapan negatif atas korban mengenai kasus ini walaupun hanya dari secuil informasi. Informasi disni diartikan untuk menjawab “apa yang sebenarnya terjadi?”, “bagaimana bisa terjadi?” atau pertanyaan-pertanyaan kepo lainnya. Hanya sedikit bibir yang peka dan sadar untuk mempertanyakan bagaimana proses korban sehingga bisa melaporkan kasus ini, apa yang melatarbelakanginya melaporkan kasus ini dan bagaimana kondisi mentalnyanya sekarang atas anggapan-anggapan yang lahir di masyarakat mengenai nasib sial yang menimpa dirinya. Terlebih dalam kasus ini kita dapat mengetahui bahwa pelecehan seksual yang dialami korban tak terjadi hanya sekali, gamblang dijelaskan di banyak media bahwa hal ini terjadi hingga tujuh kali. Anggapan negatif makin berterbangan. Dalam benak masyarakat kita yang dipertanyakan adalah mengapa bisa berulang sampai sebanyak itu. Tanpa merasa berdosa kita menyebutnya “suka sama suka” tanpa mempertanyakan pula “apa” yang membuat pelaku sampai hati berbuat keji seperti itu. Stop! Kita cukup mempertanyakan mengapa korban bisa mengalaminya & mengapahal itu bisa terjadi berkali-kali? Kita tidak boleh mempertanyakan niat busuk pelaku terhadap korban apalagi bertanya mengapa pelaku berbuat demikian & melakukannya tidak hanya sekali. Karena dalam sistem yang kita anut yah memang begini. Lagi-lagi hati Cuma bisa miris.

Dalam sistem dan kondisi demikian, jika saya jadi korban tentu saya akan paham betul konsekuensi apa yang saya terima jika masyarakat tahu saya adalah korban pemerkosaan. Meski secara nyata diposisikan sebagai korban, kondisi masyarakat demikian tentu akan memberi banyak anggapan negatif yang sudah pasti akan membayang-bayangi saya. Tentu saya sempat akan berpikir untuk diam karena kondisi ini, terlebih pelaku yang menyakiti saya adalah “orang besar” yang punya koneksi sana-sini untuk membela segala tindak-tanduk bejatnya. Tapi…? Bukankah diam hanya menyelesaikan masalah luarnya saja? Bagaimana dengan orang-orang terdekat saya nanti ? Bagaimana pandangan semua orang yang mengenal saya tentang kehamilan saya yang tidak jelas ini ? Bagaimana beban moral anak saya nanti ? Bagaimana sakitnya orang-orang yang telah menaruh kepercayaannya kepada saya akan kondisi yang menimpa saya sekarang ini ? Bagaimana saya menghilangkan rasa bersalah yang begitu dalam atas kondisi saya & orang-orang tersebut ? Diam bukan jawaban. Seperti yang sekarang kita lihat korban tak memilih untuk diam & menyelsaikan masalah luarnya saja. Ia bangkit untuk masalah utamanya. Ia bangkit bukan hanya untuk dirinya.

Butuh keberanian maha dahsyat untuk bisa kembali berdiri. Sampai detik ini, hal inilah yang sedang dilakukan korban dan orang-orang sekelilingnya yang menyanginya. Beban moral yang dalam membuat mentalnya jatuh & amat tertekan. Tapi sebuah perjuangan bukanlah perjuangan jika terjadi tanpa rintangan. Rintangan itu memang tidak banyak, tapi sangat banyak & saling berkait satu sama lain. Selain anggapan negatif masyarakat atas dirinya, ia juga mencoba bangkit dari rasa bersalahnya pada dirinya sendiri dan ia mencoba bangkit dari bayang-bayang si “orang kuat” – dengan segala backing-annya – yang telah menyakitinya secara fisik & mental. Tak ada wanita yang ingin kehormatannya direnggut paksa! Tak ada wanita yang ingin jadi kambing hitam suatu masalah padahal ia sendiri menangis di pojok kamar atas apa yang menimpanya!

Untunglah orang-orang terdekatnya mencoba mengembalikan kembali senyuman yang memang seharusnya ada diwajahnya sekarang dan nanti. Memang sangat susah, terlebih mental korban yang sudah sedemikian terpuruk. Terus menangis, meratapi nasib hingga beberapa kali percobaan bunuh diri kerap dilakukannya atas masalah kompleks yang berasal dari birahi sesaat budayawan palsu tersebut. Sangat sulit mengembalikan senyum itu seperti dulu. Namun inilah kami, inilah kami yang tak henti-hentinya mencoba. Di jalur hukum pun demikian, Mbak Yayas (Saras Dewi), Bu Lilly Tjahja, bang Iwan Pangka & beberapa rekan dari berbagai lembaga hukum lainnya turut membantu perjuangan korban. Membuat Sitok menerima hukuman bukan hanya harus dilakukan untuk menaati proses hukum yang berlaku, lebih dari itu dengan hal demikian masyarakat akan menilai bahwa dialah korban. Dialah korban yang tidak terkungkung oleh diam, dia mencoba melawan, membalikan keadaan & meraih sukses besar. Tak hanya itu semangat mereka yang berjuang di jalur hukum & mengabdi tanpa pamrih juga tak henti-hentinya memantik semnagat kami untuk terus juga membangkitkan moral saudari kami ini.

About tommywahyuutomo

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, BEM FIB UI divisi Media Kreatif & anggota ISJUI.

Posted on April 21, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: