Tanah Orang Miskin di Ujung Patok

suatu ketika di kolong stasiun UI

Tuhan… Sudikah Engkau menghdiupkan si mati? Si mati yang mati dalam bijak. Si mati yang mati bahkan tanpa jejak & tak banyak orang tahu bajik si mati ini.

Tuhan… Aku yang lugu ini pun bahkan mengenal si mati hanya dari buku sejarah dan katanya. Dari paragraf kolom sejarah surat kabar tua, bait-bait cerita atau sedikit karya sastra. Si mati ini tak jelas rimbanya. Bahkan tak ada ku dengar namanya saat dongeng sebelum tidur semasa aku kecil dulu.

Siapa si mati ini ? Aku hanya bisa menerka. Ada yang bilang ia golongan kiri. Golongan garis keras. Katanya. Mereka bilang bapak bangsa. Mereka bilang pengkhianat ulung. Lalu berkhianat pada siapakah ia ? Tak sedikit yang bilang ia bangsawan. Bangsawan murahan yang menepi ke pinggiran pedesaan & perkebunan & menulis maha karya perjuangan diam-diam.

Adalah bodoh jika ku minta hidupkan si mati. Memang mati tetaplah mati. Mungkin raga mudah membusuk, tapi pemikiran tak pernah lebur barang sedikit. Ya Tuhan, peluklah si mati ini dalam dekapan-Mu. Biarlah rimbanya hilang, asal jasa tetap dikenang. Esa hilang, dua terbilang.

About tommywahyuutomo

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, BEM FIB UI divisi Media Kreatif & anggota ISJUI.

Posted on Januari 10, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: