Optimis Itu Harus, Tapi Pesimis Gak Haram Juga kan ?

Optimis. Apa yang terlintas dipandangan Anda ? Yah, singkatnya, Optimis adalah pandangan positif/baik kita dalam menghadapi suatu masalah. Optimis memang sangat perlu dalam mencapai suatu tujuan, terlebih saat kita tidak yakin suatu tujuan itu tidak akan maksimal dicapai atau bahkan tidak sama sekali.

Optimis merupakan suatu modal dalam kehidupan kita untuk berani melawan keadaan, berani mengubah keadaan & berani beradaptasi dengan keadaan. Tanpa rasa optimis, jika kita ingin memejamkan mata kita sendiripun akan terasa berat bak menarik pesawat Jet f16 seorang diri.  Tanpa rasa optimis di dunia ini, penemu lampu, Thomas Alva Edison, juga tak akan sanggup melakukan 10.000 kali percobaan yang menyita banyak pengorbanan waktu, tenaga & fikiran. Tapi berkat rasa optimisnya, beliau berhasil menerangi dunia. Tak terhitung sudah berapa Trilyun Bola lampu yang telah Dunia gunakan setelah maha karyanya ditemukan.

http://slayerlewilda.files.wordpress.com/2008/10/lampu.jpg

Yah, itulah hebatnya The Power of Optimism. Tujuan seberat apapun akan terasa ringan jika kita optimis. Dua faktor rasa optimis menurut saya adalah tekanan & kemauan. Seorang yang tertekan tentu akan melawan dengan segenap kemampuannya walaupun dengan sedikit kesempatan. Saat kesempatan tidak terlalu terbuka, disinilah peran optimisme sangat dibutuhkan.

Namun optimisme yang berlebih atau hiperbola adalah suatu kesalahan. Yah memang Edison sendiri berkorban 10.000 percobaan karena suatu kata O-P-T-I-M-I-S. Pesimis juga tidak haram bukan ? Mengapa pesimis selalu disalahkan & dikonotasikan negatif. Menurut saya pribadi, pesimis adalah rasa dari hati kecil kita yang jujur atau bahkan tidak jujur karena dari pengaruh luar. Pesimis adalah tolak ukur kita dalam mencapai suatu tujuan, rasa pesimis juga membuat kita berfikir bagaimana caranya supaya kita menjadi optimis. Seorang anak kecil yang membuat mainan pesawat kertas dengan sisa kertas yang sagat kusut dari hati kecilnya yang polos berkata “Apa bisa saya membuat pesawat-pesawatn dengan kertas yang lusuh ini ?”. Pertanyaan si anak tersebut merupakan rasa pesimis. Lantas ia kembali berfikir “Kalau begitu, bisakah saya menggunakan kertas lain”. Di proses ini si anak mencoba mencari jalan keluar atau bisa disebut proses pra-optimis. Setelah anak itu berfikir lagi yakin dengan pilihannya, itulah yang dinamakan rasa Optimis yang murni.

 

Karena tidak mungkin si anak tadi karena selalu dijejali Orasi-orasi untuk optimis dari keluarganya lantas ia berfikir untuk membuat jet f16 dari sebuah kertas lusuh bukan🙂

 

Cheeeers !! Be Optimizzed with honesty !!

About tommywahyuutomo

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, BEM FIB UI divisi Media Kreatif & anggota ISJUI.

Posted on Juli 18, 2011, in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan komentar :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: