[Always on Top] Ayo Download 1000 Foto Terbaik Bung Karno


Apakabar teman-teman ? Alhamdulillah nih, akhirnya setelah sebulan penuh huntng-hunting foto Bung Karno bisa diselesaikan hari ini, 3 hari sebelum hari kemerdekaan Ibu Pertiwi yang ke 66. Mungkin Bung Karno Project ini terlampau lama saya selesaikan, karena kendala kesibukan saya akhir-akhir ini. Apalagi saat bangsa ini sedang ulang tahun namun sedang krisis nasionalisme pula, hal ini tentu sedikit menambah kecintaan ita pada beliau, Sang Proklamator🙂

Sebenarnya foto-foto yang saya sertakan disini adalah mayoritas saya dapatkan dari blog pencinta BK yang sudah gak asing lagi, yaitu http://penasoekarno.wordpress.com/ yang tidak lain dan tidak bukan punya admin yang sama dari blog http://penakisemar.wordpress.com/

Tapi sayangnya foto-foto di blog itu di posting untuk keperluan membaca blog saja. Kita harus mendownloadnya manual & satu persatu untuk mendapatkan semua foto yang di posting di blog itu. Belum lagi banyak foto-foto yang repost atau sudah pernah ada di postingan sebelumnya namun di posting kembali. Tapi saya salutkan buat Ki Semar yang mampu mengumpulkan foto-foto Bung Karno Sebanyak itu.

Di postingan saya kali ini, teman-teman tinggal medownload foto-foto tersebut dalam sekali download. Saya sudahmenyiapkan 7 album. Enam diantaranya adalah foto dari Ki Semar yang sudah saya kategorikan d bawah ini🙂 (akan sy update juga via ziddu, tunggu aja yah teman )

1 Foto-foto Bung Karno & Keluarganya

Bung Karno & Keluarga Preview

Download Foto-Foto Bung Karno & Keluarganya

____________________________________________________________________

2 Bung Karno & Rakyatnya

Bung Karno & Rakyat Preview

Download Foto-Foto Bung Karno & Rakyatnya

Download 4 album foto Bung Karno lainya, baca selengkapnya… Read the rest of this entry

Lembar Hitam Kebudayaan yang Kita Lahirkan Sendiri (Jilid kedua bauayawan besar)


sitok 3

Lambat laun kasus ini makin merembet kemana-mana. Ada kepentingan dari pihak-pihak lain yang muncul di kasus ini. Tidak akan saya jelaskan panjang lebar hal tersebut. Toh apa untungnya bagi kasus saudari kami ini ? Di bagian ini saya mencoba meluapkan kegelisahan hati saya. Kegelisahan saya mengenai kesalahan sistem keruh “kita“ yang makin memperkeruh kasus ini. Kebudayaan, birokrasi hukum & pemberitaan media masa. Tiga komponen ini tercoreng, hancur, dan terlihat bobroknya setelah kasus ini muncul ke permukaan.

Sekarang saya tidak bisa menyalahkan birahi Sitok atas musibah saudari kami ini. Percuma. Nasi telah menjadi bubur. Yang saya sesalkan adalah sikapnya yang dianggap seorang budayawan besar tapi tidak memberikan hal yang patut dicontoh untuk masyarakatnya sendiri. Memang label budayawan tidak didapat dengan jenjang akademis & hanya merupakan pemberian gelar non-formal masyarakat luas saja. Namun sejatinya label itu sangat sakral & sarat makna. Orang yang dianggap budayawan tidak hanya harus mengerti asas-asas kebudayaan yang berlaku dalam masyarakatnya, lebih dari itu adalah wajib hukumnya jika asas-asas tersebut ia terap & sebarkan dalam masyarakat. Andai saja Sitok tidak berkelit dan bersembunyi dari tanggung jawabnya, label pemuka budaya yang ia miliki tidak akan tercoreng. Saya tidak mempermasalahkan lebel pemuka budaya yang sudah terlanjur tercoreng itu, namun budaya dalam masyarakat kita dianggap sebagai pemersatu ditengah seluruh problematika bernegara, budaya dianggap sakral & memiliki nilai-nilai luhur yang lahir dari masyarakat kita sendiri. Ini berimbas buruk pada budaya kita, dengan fenomena ini kita secara gamblang membuka lembaran hitam kebudayaan kita. Jika orang yang kita percaya sebagai penjaga nilai-nilai budaya itu saja merusak apa yang harus ia jaga, bagaimana dengan kita dan budaya kita sekarang dan nanti ke depannya? Coba teman-teman pikirkan sendiri.

Andai Sitok tak berkelit & taka sembunyi dari apa yang menjadi tanggung jawabnya. Loh? Jangan mengada-ada! Bukannya dia bertanggung jawab ? Masak sih ? Tanggung jawab yang seperti apa ? Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, kita tidak akan menemukan titik terang kalau kita sendiri tidak tahu apa dan bagaimana titik terang yang dimaksud. Mari luruskan sudut pandang dalam celotehan saya ini.

Yang terjadi di masyarakat kita kental kaitannya dengan budaya patriarki. Lelaki yang mengeluarkan benihnya di rahim seorang prempuan secara paksa tanpa kemauan si korban akan sah-sah aja. Dianggap tidak bersalah jika si lelaki nantinya bertanggung jawab atas benihnya yang telah membuat perut si wanita menjadi buncit itu. Benih tersebut dianggap telah merubah bentuk semula sebuah perut yang seharusnya tidak demikian. Perut yang menjadi buncit ini yang dalam masyarakat kita melulu diutamakan. Dari sini terlihat bagaimana bejatnya kita menanggap seorang wanita hanya sebagai properti saja, hanya sebatas tempat membuang sperma. Sering kali kita lupa akan masalah sebenarnya yang sebenarnya jauh lebih rumit, emosional dan jauh lebih berat. Masalah tersebut adalah masalah pengalaman buruk korban yang akan terus dia ingat sepanjang hidupnya & tidak mungkin akan ia lupakan. Selain itu korban merasa bahwa dirinya telah kotor. Dalam masyarakat kita begitu bukan ? Martabat wanita dipandang hanya dari selangkangan ? Maka dari itu jangan salahkan kami sebagai kaum lelaki jika suatu saat salah satu atau beberapa dari kalian menjadi objek birahi kami, kami nantinya hanya sebatas bertanggung jawab atas kebuncitan perut kalian itu. Itupun kalau karena kami lupa memakai pengaman. Yah! Memang begitu kan aturannya ?! Saya jadi ingat sebuah tulisan yang ditulis Nosa Normanda yang berjudul “Logika Kita Logika Sitok: Tips Trik Menikahi Luna Maya, Agnes Monica dan Personil JKT48”. Dalam tulisan itu dijelaskan tentang konsep tanggung jawab dalam kasus pemerkosaan di masyarakat patriarki semacam kita ini. Mudah untuk lepas dari amarah masyarakat, nikahi saja. Maka mudah pula untuk mendapat wanita yang kita mau. Perkosa saja, lalu nikahi, itupun kalau perutnya membuncit. Pengalaman buruk & rasa bersalah korban atas martabatnya ? Alah peduli setan! Sudah saya jelaskan diatas bukan?

sitok 2

Kembali ke kasus saudari kami ini & prespektif konsep pertanggungjawaban si Sitok ini. Teman-teman pasti pernah mendengar di beberapa media bahwa Sitok bersedia bertanggung jawab & korban memang menuntut pertanggungjawaban darinya. Tapi konsep tanggung jawab ini berbeda dengan apa yang ada di pandangan Sitok (dan kita umunya) dengan konsep pertanggungjawaban yang korban mau. Sitok siap menikahi korban. Hal itu kita anggap sebagai bentuk pertanggungjawabannya & mau tidak mau dianggap juga sebagai titik terang kasus ini. Selamat teman-teman, dengan ini kita secara tegas mendukung korban untuk terus diperkosa secara fisik & mental oleh seorang predator seks ini. Mendengar nama Sitok Srengenge saja wajah korban langsung pucat pasi, bahkan bisa menangis hingga pingsan. Bentuk pertanggungjawaban yang pihak korban maksud tidak muluk-muluk. Sitok diminta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Ia juga hanya diminta untuk meminta maaf kepada keluarga korban, institusi pendidikan & komunitas kebudayaan. Hanya itu! Saya sudah jelaskan, bukan hanya karena prosedural hukum Sitok harus diadili. Lebih dari itu masyarakat juga dididik mengenai masalah moral dalam kasus ini, masyarakat juga diarahkan bahwa sebenarnya posisi korban tidak layak untuk diberi stigma-stigma negatif yang muncul dari sisi hitam budaya patriarki ini. Jika teman-teman sedikit peka, yang akan kita lihat dari konsep ini ialah korban mencoba memperbaiki ulanng elemen kebudayaan yang secara tidak langsung Sitok hancurkan melalui birahi dan sikap tidak kesatrianya itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “mempertanggungjawabkannya” ialah kata terpanjang. Karena memang kita tahu tanggung jawab itu tidak mudah dan merupakan elemen rumit untuk menjaga sebuah martbat. Sitok, saya harap Anda membaca secuil paragraf ini.

Itu baru dari sisi budaya, belum lagi masalah pers & birokrasi hukum yang juga menjadi keruh lantaran kasus ini. Saya masih ingat betul, sehari sebelum daiadakannya berita acara pemerikasaan (BAP) perdana korban, portal media online Kompas.com memuat berita dengan judul “Besok, TTM Sitok Srengenge Akan Jalani Pemeriksaan”. GILA!!! Media sekaliber kompas dengan gamblang memposisikan korban sebagai “teman tapi mesra” seorang predator seks yang mau tidak mau merubah prespektif masyarakat bahwa korban juga membutuhkan seks itu sendiri dari si pelaku. Bagaimana hancurnya perasaan korban? Sudah jatuh tertimpa tangga lalu terbentur tiang. Usut punya usut ternyata ini merupakan kesalahan bagian redaksi. Seorang redaktor portal media online Kompas rupanya berinisiatif membuat judul itu. Saya tak sedikitpun sudi namanya disebut di tulisan saya ini. Jijik! Tak jelas apa tujuannya. Membuat judul yang heboh supaya banyak orang membacanya di portal media tersebut dan rating visitor web-nya naik mungkin ? Pengunjung makin banyak, iklan makin laris. Bukan begitu ? Tapi sayangnya masyarakat tidak bodoh dalam membedakan mana fakta dan mana opini. Cemooh, kecaman & serangan balik malah ditujukan buat si redaktur nakal ini melalui dunia maya. Melalui laman twitternya redaktur ini mengaku akan mundur dari institusinya. Apa bedanya dengan Sitok ? Mengakui kesalahannya, lalu mundur dari institusinya namun tanpa tindakan kongkrit untuk korban. Sama bejat, beda kasus.

Itu bukan satu-satunya. Ada satu media online yang tak kalah lucu. Media yang “dekat” dengan Sitok yang saya rasa teman-teman sudah tahu tanpa saya sebut disini. Ketika kasus ini meledak ke masyarakat, dibuatlah berbagai berita yang memposisikan Sitok sebagai orang yang juga patut dibela. Berita-berita yang menayangkan bahwa Sitok siap bertanggungjawab, Istri Sitok akan tetap setia & dukungan anak Sitok melalui surat terbuka secara tidak langsung menggiring opini publik ke arah yang salah dalam kasus ini. Saya jadi ingat tulisan saudara Yons Achmad mengenai sedikit basis ilmu komunikasi. Dijelaskan bahwa dalam ilmu komunikasi terdapat dua jenis sumber komunikasi, public relation & jurnalistik. Dalam jurnalistik, pahit atau manis, katakanlah. Dalam public relation katakan yang (hanya) baik atau diam. Diawal kemunculan kasus ini saya masih kurang paham bagaimana media diatas memposisikan dirinya. Sebagai media milik masyarakat atau public relation pihak Sitok. Yang kita perlu ingat baik-baik adalah media adalah separuh nyawa demokrasi kita modern ini selain birokrasi yang bersih. Demokrasi adalah pilar kelima di Indonesia. Media yang bermartabat tentu mencerminkan kondisi masyarakat yang berdaulat.

[url=https://flic.kr/p/oLsJRS][img]https://farm4.staticflickr.com/3850/14942991812_aa8c78d3dd_z.jpg[/img][/url][url=https://flic.kr/p/oLsJRS]@PSAMabim_FIBUI 04[/url] by [url=https://www.flickr.com/people/97749819@N08/]tommywahyuutomo[/url], on Flickr

Salah satu aksi solidaritas kami dari tim #AdiliSITOK!

Dari segi birokrasi hukum pun saya tak mau panjang lebar. Yang saya ingin pertanyakan adalah “Mengapa kasus ini yang semula ditangani bagian oleh Subdit Remaja, Anak, dan Wanita (Renakta) dialihtangankan ke bagian Sub Direktorat (Subdit) Keamanan Negara (Kamneg)…? Dan mengapa proses hukum yang berjalan terkesan lama…? “. Dua pertanyaan yang membuat kita lagi-lagi merasa malu dengan sistem hukum yang kita ciptakan sendiri namun kita langgar bersama. Apakah karena kasus si Sitok ini terlalu membuat masyarakat heboh lantas ia dipindahkan ke bagian kemanan negara yang saya rasa memang bukan tempatnya. Lalu kenapa proses hukumnya berjalan lama…? Apa karena bakingan si Sitok ini cukup berpengaruh kepada institusi penegak hukum ? Kita sudah mengetahui apa dan bagaimana titik terang kita maksud. Lalu bagaimana supaya titik terang yang kita cari sejak awal itu dapat ditemukan ? Apa jaket kuning harus turun ke jalan (lagi)? Apa mereka tidak ingat 2 rezim besar dapat diruntuhkan oleh kita, makara putih, pejuang budaya? Apa kita sebagai pejuang budaya harus melulu diam & menunggu korban-korban selanjutnya bergelimpangan ? Semua kembali kepada keputusan teman-teman semua. Salam damai.

Rujukan :

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/11/1531546/Besok.TTM.Sitok.Srengenge.Akan.Jalani.Pemeriksaan.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/12/23/my9e8a-kasus-sitok-dilimpahkan-ke-bagian-keamanan-negara

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/30/064533626/Sitok-Dituduh-Memperkosa-Istri-Tetap-Setia

http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/12/02/9-dosa-tempo-dalam-kasus-sitok-srengenge-615882.html

http://jakartabeat.net/kolom/konten/logika-kita-logika-sitok-tips-trik-menikahi-luna-maya,-agnes-monica-dan-personil-jkt48

Kami, Kamu & Perspektif Mereka dibalik Sitok Srengenge (Jilid pertama bauayawan besar)


sitok 1

Kami tak kuasa menahan luapan emosi ketika melihat orang bertopi gelap yang baru keluar dari salah satu lorong bagian Mabes Polda. “Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan! Buayawan!”, begitu teriakan kami pada sosok (yang katanya) budayawan ini. Terlihat mukanya pucat pasi ketakutan. Segerombol wartawan & beberapa dari kami mencoba mendekati sosoknya. Tak ada niatan untuk mengumpat, kami sadar betul hal itu membuat derajat kami lebih rendah dari ia yang kami teriaki. Terlebih kami membawa embel-embel sebuah institusi pendidikan terbesar di negri ini. Terlebih tiap hari juga kami dijejali nilai-nilai kebudayaan di dalam kelas yang diimplementasikan juga dalam masyarakat. Kami sadar diri. Selang beberapa menit, dia & beberapa rekanannya pun berhasil masuk ke mobil yang telah disiapkan & dengan sigapnya mobil itu pergi. Kami yang hanya beberapa mahasiswa ingusan masih lantang meneriaki predator itu & tak peduli apakah sindiran keras itu masuk ke telinganya. Wartawan yang sudah 12 jam menunggunya bersama kami pun kesal karena insiden tersebut membuat mereka tak mendapat pers relase dari tim kuasa hukum pihak terlapor. Loh ? Masih punya muka ? Tak hanya wartawan, beberapa polisi berpakaian preman juga mencoba menurunkan emosi kami dengan bentakan-bentakannya yang lantang. Namun nihil hasil. Rasanya bentakan itu tak sebanding dengan perjuangan-perjuangan kami selama ini dalam membela apa yang patut kami bela. Tak sebanding pula dengan perjuangan seorang korban yang jatuh bebas kondisi psikologisnya untuk setidaknya kembali ingat bagaimana caranya tersenyum. Nihil. Maaf, kami tak berniat takut!

Selang beberapa langkah pasca kejadian tersebut, saya, 15 teman-teman mahasiswa perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia dan beberapa rekan tim kuasa hukum RW termasuk pak Iwan Pangka diperintahkan untuk tidak keluar area Mapolda. Kami diarahkan untuk masuk kembali ke sebuah ruang tunggu tempat kami berteriak lantang-lantang tadi. Segerombolan wartawan tadi memotret kami, entah judul berita apa yang akan dijatuhkan buat kami nanti. Di ruangan tersebut terlihat beberapa polisi berpakaian preman yang tadi terlihat di luar. Kami duduk rapih di ruangan itu. Identitas kami yang tak sampai dua puluh orang dimintai sebagai bukti. Alasannya ? Salah satu petinggi Mapolda merasa tidak nyaman atas aksi kami yang diklaim liar ini. Jadi ? Hukum disini itu sangat cepat bukan? Hanya hitungan detik kami diproses dan dinyatakan liar, sementara pemerkosa bertopeng budayawan tersebut bahkan masih bersatus saksi. Kami ingat betul kalau berita acara pemeriksaan terakhir pihak korban adalah bulan Desember tahun sebelumnya, sementara untuk si topi gelap baru tiga bulan setelahnya. Kapan akhir kasus ini ditemukan ujungnya ? Menunggu kami lupa ? Nihil. Maaf, kami menolak lupa!

Lupakan sejenak teriakan-teriakan kami tadi & mari sementara waktu melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Buka mata, buka hati & pikirkan matang-matang. Apakah titik terang benar adanya jika mata kita sendiri tertutup ? Pikiran dan hati pun demikian. Apa titik terang tersebut bisa kita temukan jika kita sendiri yang mencarinya tidak tahu apa dan bagaimana titik terang yang dimaksud.

Bermula akhir tahun lalu ketika berita-berita itu akhirnya tak kuat dibendung lagi oleh waktu. Beberapa portal media memberitakan tentang seorang mahasiswi Universitas Indonesia berinisial RW yang diketahui usia kandungannya sudah tujuh bulan melaporkan seorang penyair terkenal, Sitok Srengenge, atas sebab kehamilannya itu. Hal ini berawal dari perkenalan mahasisiwi tersebut dengan si penyair pada sebuah event tahunan di kampusnya dan berujung kedekatan setelah event tersebut. Bahkan dengan latar belakang budayawan, penyair tersebut dengan mudahnya mendekati korban yang memang juga sedang menggarap skripsinya yang membahas tema tentang cerpen berbahasa Jerman. Namun sayang kondisi itu dimanfaatkan si penyair untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dari tubuh si korban. Setelah cukup sering berkomunikasi lewat SMS ataupun dunia maya, akhirnya korban ditawari beberapa tiket secara gratis di pertunjukan seni sebuah institusi kesenian, Komunitas Salihara, tempat dimana Sitok menjadi seorang kurator teater disana. Setelah intensitas pertemuan dan komunikasi yang cukup dekat, tiba saatnya dimana hari pertemuan antara keduanya yang dilakukan di sebuah tempat kos kediaman Sitok. Disana untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim. Inilah lembar hitam pertama dimulainya kasus yang sangat kompleks ini. Bahkan belum lama setelah kasus ini muncul ke permukaan, SS sempat mengakui bahwa dirinya khilaf. Maksud hati membela diri tapi nyatanya itu malah menjadi sebuah langkah bunuh diri untuk mengetahui kebejatan & kepengecutan atas tindakannya sendiri.

Hari bergulir, pemberitaan itu makin santer. Dalam benak saya mungkin hal ini terjadi karena ada dua institusi besar yang dijual dalam setiap pemberitaan ini, institusi pendidikan tertinggi dan terbesar di negri ini & sebuah institusi kebudayaan yang tak kalah kondang pula. Makin hari makin jelas siapa sebenarnya pelapor dan terlapor dalam pemberitaan-pemberitaan itu. Satu almamater, satu makara, sontak saya kaget mengetahui fakta tersebut. Namun yang tak kalah membuat badan ini lemas adalah ketika saya tahu siapa sebenarnya mahasiswi malang ini. Memang kami tak cukup dekat, tapi saling bertegur sapa adalah hal wajib ketika kami saling berpapasan, tak jarang juga kami duduk semeja di kantin fakultas ini. Dalam hati hanya bisa miris & masih sulit menerima kenyataan yang ada. Supel, murah senyum & enak diajak bekerjasama. Itu kesan pertama saya pada dia si malang ini. Pantas saja sudah cukup lama kami tak saling bertegur sapa lagi.

Imbas dari pemberitaan ini beragam. Ada yang memberi simpati bahkan empatinya kepada apa yang ia alami. Ada yang menganggap ini hanya tebar sensasi semata & tak sedikit pula bibir-bibir yang sudah lebih dahulu menyalahkan mahasiswi malang tersebut. Ingin rasanya menampar bibir-bibir tersebut. Bisa apa ? Toh ini adalah hal yang wajar mengingat masyarakat kita – yang kita harus akui dengan berat hati – masih berkiblat pada sistem patriarki. Dan memang diawal munculnya kasus ini informasi masih sangat sedikit. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan sistem patriarki dalam sistem kebudayaan yang kita anut ini, ini merupakan sistem kebudayaan yang sudah melulu diturunkan. Yang saya sangat sesalkan adalah kita melulu menempatkan wanita sebagai pemicu tunggal dalam hampir seluruh kasus pelecehan seksual semacam ini, cukup sebagai pemicu, bukan dari awal ditempatkan sebagai korban.  Mata dan birahi kaum lelaki jangan harap disorot disini. Alasannya selalu klise, birahi muncul karena ada kesempatan. Belahan dada & paha putih membuat celana kami sempit. Yah! Benar adanya! Tapi sayangnya mereka lupa akan juga adanya “niat” dari pemilik birahi itu sendiri. Sehingga jangan salahkan kami bila belahan dada & paha putih itu sudah tertutup rapih namun kalian tetap disalahkan karena perbuatan kami. Salah sendiri! Kenapa punya belahan dada dan paha putih ?! Itu sistem yang berlaku disini. Bejat? Yah, bejat!

Selain itu praduga-praduga pun bermunculan karena sedikitnya informasi dari kasus ini. Lagi-lagi kita hanya bisa mengernyitkan dahi, ternyata banyak kalangan yang lebih awal menghasilkan praduga juga anggapan negatif atas korban mengenai kasus ini walaupun hanya dari secuil informasi. Informasi disni diartikan untuk menjawab “apa yang sebenarnya terjadi?”, “bagaimana bisa terjadi?” atau pertanyaan-pertanyaan kepo lainnya. Hanya sedikit bibir yang peka dan sadar untuk mempertanyakan bagaimana proses korban sehingga bisa melaporkan kasus ini, apa yang melatarbelakanginya melaporkan kasus ini dan bagaimana kondisi mentalnyanya sekarang atas anggapan-anggapan yang lahir di masyarakat mengenai nasib sial yang menimpa dirinya. Terlebih dalam kasus ini kita dapat mengetahui bahwa pelecehan seksual yang dialami korban tak terjadi hanya sekali, gamblang dijelaskan di banyak media bahwa hal ini terjadi hingga tujuh kali. Anggapan negatif makin berterbangan. Dalam benak masyarakat kita yang dipertanyakan adalah mengapa bisa berulang sampai sebanyak itu. Tanpa merasa berdosa kita menyebutnya “suka sama suka” tanpa mempertanyakan pula “apa” yang membuat pelaku sampai hati berbuat keji seperti itu. Stop! Kita cukup mempertanyakan mengapa korban bisa mengalaminya & mengapahal itu bisa terjadi berkali-kali? Kita tidak boleh mempertanyakan niat busuk pelaku terhadap korban apalagi bertanya mengapa pelaku berbuat demikian & melakukannya tidak hanya sekali. Karena dalam sistem yang kita anut yah memang begini. Lagi-lagi hati Cuma bisa miris.

Dalam sistem dan kondisi demikian, jika saya jadi korban tentu saya akan paham betul konsekuensi apa yang saya terima jika masyarakat tahu saya adalah korban pemerkosaan. Meski secara nyata diposisikan sebagai korban, kondisi masyarakat demikian tentu akan memberi banyak anggapan negatif yang sudah pasti akan membayang-bayangi saya. Tentu saya sempat akan berpikir untuk diam karena kondisi ini, terlebih pelaku yang menyakiti saya adalah “orang besar” yang punya koneksi sana-sini untuk membela segala tindak-tanduk bejatnya. Tapi…? Bukankah diam hanya menyelesaikan masalah luarnya saja? Bagaimana dengan orang-orang terdekat saya nanti ? Bagaimana pandangan semua orang yang mengenal saya tentang kehamilan saya yang tidak jelas ini ? Bagaimana beban moral anak saya nanti ? Bagaimana sakitnya orang-orang yang telah menaruh kepercayaannya kepada saya akan kondisi yang menimpa saya sekarang ini ? Bagaimana saya menghilangkan rasa bersalah yang begitu dalam atas kondisi saya & orang-orang tersebut ? Diam bukan jawaban. Seperti yang sekarang kita lihat korban tak memilih untuk diam & menyelsaikan masalah luarnya saja. Ia bangkit untuk masalah utamanya. Ia bangkit bukan hanya untuk dirinya.

Butuh keberanian maha dahsyat untuk bisa kembali berdiri. Sampai detik ini, hal inilah yang sedang dilakukan korban dan orang-orang sekelilingnya yang menyanginya. Beban moral yang dalam membuat mentalnya jatuh & amat tertekan. Tapi sebuah perjuangan bukanlah perjuangan jika terjadi tanpa rintangan. Rintangan itu memang tidak banyak, tapi sangat banyak & saling berkait satu sama lain. Selain anggapan negatif masyarakat atas dirinya, ia juga mencoba bangkit dari rasa bersalahnya pada dirinya sendiri dan ia mencoba bangkit dari bayang-bayang si “orang kuat” – dengan segala backing-annya – yang telah menyakitinya secara fisik & mental. Tak ada wanita yang ingin kehormatannya direnggut paksa! Tak ada wanita yang ingin jadi kambing hitam suatu masalah padahal ia sendiri menangis di pojok kamar atas apa yang menimpanya!

Untunglah orang-orang terdekatnya mencoba mengembalikan kembali senyuman yang memang seharusnya ada diwajahnya sekarang dan nanti. Memang sangat susah, terlebih mental korban yang sudah sedemikian terpuruk. Terus menangis, meratapi nasib hingga beberapa kali percobaan bunuh diri kerap dilakukannya atas masalah kompleks yang berasal dari birahi sesaat budayawan palsu tersebut. Sangat sulit mengembalikan senyum itu seperti dulu. Namun inilah kami, inilah kami yang tak henti-hentinya mencoba. Di jalur hukum pun demikian, Mbak Yayas (Saras Dewi), Bu Lilly Tjahja, bang Iwan Pangka & beberapa rekan dari berbagai lembaga hukum lainnya turut membantu perjuangan korban. Membuat Sitok menerima hukuman bukan hanya harus dilakukan untuk menaati proses hukum yang berlaku, lebih dari itu dengan hal demikian masyarakat akan menilai bahwa dialah korban. Dialah korban yang tidak terkungkung oleh diam, dia mencoba melawan, membalikan keadaan & meraih sukses besar. Tak hanya itu semangat mereka yang berjuang di jalur hukum & mengabdi tanpa pamrih juga tak henti-hentinya memantik semnagat kami untuk terus juga membangkitkan moral saudari kami ini.